Musik merupakan bagian dari seni dan budaya, dengan keberagaman Indonesia yang multi etnis, bukan hanya pribumi, namun etnis turunan seperti Tionghoa, India dan Arab yang semakin memperkaya kesenian dan kebudayaan bangsa.Kesenian dan kebudayaan etnis perantau itu, mempengaruhi belantika musik Indonesia.
Kehadiran musik gambus atau orkes irama padang pasir mendapat tempat di hati masyarakat khususnya di Sumut, seperti dilansir Harian Analisa (18/4/2012 00:04 WIB)
Musik yang ditandai dengan peralatan oud (alat petik asal timur tengah) baru muncul di Sumut sekitar tahun 50 an.
Awalnya, orkes gambus hanya diminati warga keturunan Arab-Melayu, namun kini digemari masyarakat umum.
Hal itu, terlihat dengan banyaknya bermunculan orkes-orkes gambus di Sumut. Salah satunya, orkes gambus Al-Wardah yang didirikan Umar Hamdah sejak 1948 di Medan.
Kemudian pada 1987 hingga saat ini, orkes Al-Wardah diwariskan kepada keturunannya, Thoriq Hamdah. Pimpinan grup musik timur tengah itu, Thoriq Hamdah saat ditemui Analisa beberapa waktu lalu di kediamannya di Jalan Besar Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan menyebutkan, hingga saat ini, Al-Wardah masih tetap di dunia hiburan, khususnya di Sumut, bahkan orkes tersebut selalu mentas saat parayaan Ramadhan Fair yang setiap tahunnya digelar digalar Pemko Medan di Jalan Masjid Raya Medan.
Ketenaran mereka tidak hanya di Sumut, bahkan mereka sering diundang dibeberapa event di sejumlah kawasan Sumbagut dan Jakarta serta Kerajaan Brunei Darussalam. Al-wardah diperankan delapan personel inti yang terdiri dari pemain musik seperti keyboard, biola, violin, darabuka treble dan bass serta empat personel tambahan yang berperan sebagai penari.
Pada pementasannya, Al-Wardah tidak hanya melantunkan irama padang pasir, namun melayu dan pop. Dalam syair-syair lagu mereka, berisikan pesan-pesan relejius berbahasa Arab, tetapi seiring perkembangan waktu, musik gambus Al-Wardah diperkaya dengan syair berbahasa Melayu, tandasnya didampingi Sekretarisnya Furqon dan bendahara, Ayu Kartika.
Karya seni menjadi cerminan suatu bangsa, dengan banyaknya hasil kesenian dari berbagai etnis membuktikan bahwa kita bangsa yang berbudaya dengan keaneka ragamannya.
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.