Hassiba Hadj Sahraoui, Wakil Direktur Amnesti Internasional urusan Timur Tengah dan Afrika Utara, menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia masih dilanggar di Bahrain meski ada janji reformasi, seperti dilansir BBC Indonesia (17/4/2012 07:50 WIB)
Di saat Bahrain bersiap untuk menggelar Grand Prix F1, Amnesti memperingatkan ''tidak ada satupun yang berilusi bahwa krisis hak asasi manusia di negara itu telah berakhir''.
"Reformasi mereka hanya goresan di atas permukaan,'' katanya
Lebih dari 40 orang tewas dalam kekerasan tahun lalu dan 1.600 ditahan.
"Otoritas negara menggambarkan negara dalam perjalanan menuju reformasi tetapi kami masih terus menerima laporan penyiksaan dan penggunaan kekuatan tentara yang berlebihan dan tak diperlukan dalam menangani aksi protes,'' kata Sahraoui.
Amnesti memberi contoh kasus seorang pelajar berusia 18 tahun, Hassan 'Oun, yang ditangkap Januari silam.
Dia mengatakan dia paksa berdiri selama 11 jam, kakinya dipukuli dengan selang dan dia diancam dengan pemerkosaan.
Amnesti Internasional juga melaporkan kasus anak berusia 14 tahun dan wanita berusia 81 tahun yang tewas setelah gas air mata ditembakkan ke rumah mereka.
Pekan ini aksi kekerasan masih berlangsung antara polisi dan pendemo di luar kota ibukota Manama disaat Bahrain melakukan persiapan adu balap mobil Formula 1.
Para pendemo meminta agar penyelenggara membatalkan Grand Prix dan menggambar dinding dengan grafiti anti-Formula 1.
"Otoritas negara menggambarkan negara dalam perjalanan menuju reformasi tetapi kami masih terus menerima laporan penyiksaan."
Hassiba Hadj Sahraoui
Sementara di London, dua pendemo memanjat ke atap kedutaan Bahrain, Senin (16/04), untuk menarik perhatian atas nasib para tahanan politik.
Reformasi tanggung
Pada bulan November, Komisi Penyelidikan Independen Bahrain (BICI) melaporkan sejumlah kasus pelanggaran HAM dan penyiksaan yang sistematis terhadap para tahanan saat pasukan keamanan menghentikan aksi protes anti pemerintah.
Dalam jawabannya Raja Hamad berjanji akan mempelajarinya dan hukum akan direformasi untuk melindungi kebebasan berbicara dan hak dasar lainnya.
Tetapi Amnesti mengatakan temuan BICI ini membuktikan bahwa reformasi yang tidak mencukupi dan apa yang disebut dengan reformasi sedikit demi sedikit tidak berjalan cukup jauh.
"Pengumuman dari BICI adalah sebuah terobosan dan meningkatkan pengharapan bahwa segala sesuatunya bisa berbeda di Bahrain. Ini adalah waktunya bagi pemerintah Bahrain untuk menyocokkan pernyataan publiknya dengan aksi nyata,'' kata Hassiba Hadj Sahraoui.
Kelompok HAM ini juga mendesak pemerintah Bahrain untuk melepaskan semua tahanan politik dan menahan semua orang yang terlibat dalam peyiksaan dan penyalahgunaan wewenang.
Hingga saat ini baru sejumlah perwira pangkat rendah yang diadili.
Amnesti menyebut kasus delapan polisi yang didakwa terkait dengan kematian para pendemo tetapi masih tetap bertugas disaat mereka diselidiki.
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.