Ambar Polah Tjahyono, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menghadapi krisis politik di Mesir, kalangan pengusaha mebel dan furnitur mulai mengalihkan pasar ke negara Timur Tengah lainnya. Iran dan Irak menjadi incaran karena kedua negara tersebut selama ini mengandalkan furnitur dari Malaysia dan China.
Hal itu disampaikannya di Jakarta, Rabu (9/2). ”Kami yakin bisa mengambil alih peranan China dan Malaysia karena kualitas mebel Indonesia jauh lebih bagus,” katanya.
Pengalihan pasar menjadi pilihan karena krisis politik di Mesir diperkirakan berlangsung hingga enam bulan mendatang. ”Kalau tidak ada pengalihan, ekspor mebel ke Timur Tengah akan terganggu. Ekspor ke Mesir dipastikan turun. Mesir menduduki posisi keenam bagi ekspor Indonesia ke Timur Tengah,” katanya, seperti dilansir Kompas (10/2/2011 03:17 WIB)
Dari data Badan Pusat Statistik yang diolah Asmindo, negara tujuan ekspor furnitur tertinggi tahun 2010 diduduki Amerika Serikat 26,97 juta dollar AS, disusul Turki 10,63 juta dollar AS, Israel 4,47 juta dollar AS, Lebanon 4,26 juta dollar AS, dan Arab Saudi 4,02 juta dollar AS. Nilai ekspor mebel ke Mesir tahun 2010 tercatat 3,92 juta dollar AS. Nilai ekspor keseluruhan ke Timur Tengah sebesar 64,6 juta dollar AS.
Mesir menjadi pasar potensial karena negara tersebut banyak bergantung pada sektor pertanian dan pariwisata. Sektor mebel tidak banyak berkembang di negeri piramida tersebut. Asmindo khawatir, konflik Mesir meluas sehingga berdampak pada penutupan Terusan Suez.
Jika kondisi terburuk tersebut terjadi, potensi kerugian industri mebel berkisar 100 juta dollar AS. Hal itu karena Mesir juga memegang peranan penting dalam lalu lintas perdagangan menuju Afrika dan Eropa. Menurut Ambar, proyek kerja sama Mesir dan Indonesia dalam mengolah eceng gondok sebagai bahan baku mebel bakal terhenti. Nilai investasinya sekitar Rp 13 miliar.
Fachry Thaib, Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Kerja Sama Ekonomi Timur Tengah, mengatakan, imbas krisis politik di Mesir mulai terasa. Sebagian besar kargo meminta transit di Dubai sehingga lalu lintas barang terganggu.
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.