Selama 2011, Timur Tengah sedang berubah. Revolusi melanda Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman. Apa penyebabnya dan kemana arah revolusi? Penjelasan apa yang bisa menerangkan fenomena ini secara benderang?
Wilayah Timur Tengah dan sekitarnya (Afrika Utara) memiliki kekhasan dan kompleksitasnya sendiri. Agama, politik, dan ekonomi adalah tiga varian tak terpisahkan. Yang satu saling mengintervensi dan mempengaruhi yang lain. Bangunan politik bertopang kuat pada pilar agama (Islam). Sebaliknya, politik mewarnai proses historisitas agama.
Dua varian tersebut tak lepas dari varian ketiga: ekonomi. Kekayaan minyak bumi menjadi takdir ekonomi Timur Tengah. Sumber daya ini adalah kompas penentu arah mata angin politik negeri itu. Politik-minyak bahkan menentukan fluktuasi ekonomi global. Perang di Timur Tengah, berarti nestapa ekonomi dunia. Karena memicu naiknya harga minyak.
Revolusi yang kini terjadi, dapat dilihat dari tiga teropong diatas. Mesir adalah imperium politik Timur Tengah. Revolusi yang terjadi di negeri Piramida itu akan merubah peta politik regional Timur Tengah. Pada batas tertentu mengubah peta global.
Sementara revolusi Libya lebih merepresentasikan soal perminyakan (ekonomi). Libya mensuplai lebih dari 70% kebutuhan minyak Italia dan negara Eropa. Keterburu-buruan NATO untuk mengintervensi proses revolusi di Libya, tak lepas dari logika kepentingan minyak. Apalagi Eropa sedang dililit krisis ekonomi. Karenanya, pantas dipertanyakan: apakah yang terjadi di Libya itu bisa dikategorikan revolusi atau sebenarnya efek dari sebuah intervensi?
Adapun revolusi Yaman dan juga Tunisia lebih mewakili dinamika keislaman di Timur Tengah. Selama bertahun-tahun, geopolitis Yaman seperti sebuah lubang hitam yang tak berdasar. Sangat kuat intervensi politis dari luar masuk ke negeri itu. Dan kepemimpinan Ali Abdullah Saleh yang cenderung pragmatis dan oportunis, mempermudah terjadinya hal itu. Tumbuh suburnya kelompok fundamentalisme di Yaman adalah efek dari intervensi politis dari luar.
Jadi, revolusi Mesir, Libya, Yaman, dan Tunisia bisa dikategorisasikan mewakili tiga wajah Timur Tengah: politik, ekonomi (minyak), dan keagamaan (Islam). Kategorisasi ini tidak rigid, karena secara substansial, tiga varian tersebut pada dasarnya integral. Ini hanya potret kecenderungan kuatnya.
Bagaimana di tahun 2012?
Bagaimana Timur Tengah di tahun depan, tahun 2012? Revolusi Mesir akan menaikkan kelompok keislaman ke kekuasaan. Formulasi ideal politik keislaman akan diuji konsistensinya di hadapan realitas kebangsaan, kepentingan regional dan kondisi global. Apakah akan terjadi konfrontasi ataukah kompromi antara dua hal tersebut, belum bisa dilihat secara terang. Masa depan relasi politik Mesir-Israel bisa dijadikan salah satu parameter pengukur. Selain itu, negoisasi dengan kelompok militer juga memegang peranan kunci. Kelompok politik moderat dan liberal, berada diantara dua bandul ini: Islamisme dan militer. Masih “ramainya” Lpangan Tahrir hingga saat ini, menjelaskan fenomena tarik menarik ini. Yang jelas, berada di panggung kekuasaan secara tiba-tiba, akan membuat kelompok Islam akan dihinggapi kegagapan sesaat. Ini efek dari berpuluh tahun direpresesi kekuasaan Husni Mubarak.
Sementara Libya masih akan bergulat dengan kerja keras konsolidasi politik. Kesadaran independensinya masih berproses, karena empat puluh (40) tahun terbiasa dibawah buaian kuasa Khadafi. Era transisi seperti ini rentan dengan intervensi. Kemilau kekayaan minyak akan membuat Libya banyak diintervensi secara politik oleh beberapa negara luar, untuk kepentingan ekonomi. Terlebih lagi, jika “bantuan” penjatuhan Khadafi dibaca sebagai sebuah “biaya politik dan militer” yang harus dikompensasi dengan “suplai minyak dan belanja perangkat militer”.
Yaman akan melewati masa-masa sulit dalam aras politik-keislaman. Negeri ini akan berada diantara tarik menarik kepentingan politik negara luar yang berbasis pada motif keislaman (fundamentalisme). Sementara pada tingkat dalam negeri, berbagai kabilah di Yaman akan melewati proses transformasi politik. Bagaimana kekuasaan yang berbasis ke-kabilah-an, bisa dimanifestasikan dalam sebuah sistem dan mekanisme yang disepakati.
Selain empat negara diatas, tahun 2012 juga akan diramaikan dengan tarik menarik revolusi di Suriah dan Bahrain. Dua negara ini mewakili tiga kutub kekuatan teoligi-politik: Syiah, Wahabi dan Sunni. Arab Saudi yang berbasis teologi Wahabi dan beberapa negara sekutunya yang berbasis Sunni, akan berusaha keras menjauhkan Bahrain dari gelombang revolusi. Tujuannya: membendung masuknya pengaruh politik Iran. Pada saat yang sama, Iran juga akan ditekan secara politis melalui isu nuklir.
Di Suriah, kekuasaan Bashar Assad di Suriah akan terus ditekan oleh Liga Arab. Lengsernya Assad akan membuka akses politik Arab Saudi dan sekutunya. Sebaliknya, akan menutup pengaruh politik Lebanon dan Iran di Suriah. Pada 2012 nanti, rivalitas politik berbasis teologi ini tampaknya akan semakin ramai dan mulai muncul dari bawah sadar.
Gema revolusi akan terus membahana di kawasan Timur Tengah pada 2012 nanti. Selain sebagai sebuah gejala alamiah, revolusi yang terjadi ini juga bagian dari tarik menarik dan intervensi politik dari berbagai negara luar.
*Muhammad Ja’far, Pengamat Politik Timur Tengah
Sumber, Tabloid Prioritas
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.