Jay Carney, Juru bicara Gedung Putih memperingatkan bahwa setiap tindakan tentara terhadap Iran akan menciptakan kegoncangan lebih besar, yang dapat mengancam keselamatan orang Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak.
Peringatan itu muncul beberapa hari sebelum pertemuan terjadwal 5 Maret antara Presiden Barack Obama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seperti dilansir Antara (1/3/2012 20:32 WIB)
"Setiap gerakan tentara di wilayah itu mengancam kegoncangan lebih besar di kawasan tersebut," katanya
Israel memberi pesan membingungkan dalam beberapa pekan belakangan tentang kemungkinan menyerang Iran untuk menghentikan pengembangan nuklirnya.
Iran berbatasan dengan Afghanistan dan Irak, kata Carney dalam jumpa pers hariannya, "Kami memiliki warga di Irak. Kami memiliki tentara dan warga di Afghanistan."
Sejauh ini, Amerika Serikat tidak memiliki bukti nyata Iran membuat senjata nuklir, katanya.
Pemerintahan Obama mengedepankan jalan keluar politik atas sengketa melibatkan pemantauan Badan Tenaga Atom Dunia atas kegiatan nuklir Iran tersebut.
"Kami terus menekan Teheran," kata Carney, "Saya pikir penting dicatat bahwa, sementara Teheran tidak dan belum mematuhi kewajiban antarbangsa, kami memantau kegiatan mereka."
Pemerintah Iran bersikeras mengembangkan tenaga nuklir hanya untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik dan pengobatan kanker. Iran membantah berencana membuat senjata nuklir.
Pemerintah Israel lantang menentang pernyataan Iran itu.
Carney mengatakan kekurangan bukti tentang senjata nuklir Iran memberi Amerika Serikat waktu dan kesempatan untuk melanjutkan kebijakan, yang diterapkan sejak presiden menjabat.
Kebijakan itu dipusatkan pada mengucilkan Iran, seperti, melalui hukuman ekonomi, sampai pemerintahnya melepaskan kegiatan nuklirnya.
Sejauh ini, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan berencana melanjutkan kegiatan nuklir negaranya. Namun, ia mengirim perunding untuk membahas masalah itu dengan negara Barat.
Kegiatan nuklir Iran akan menjadi "bahasan utama" ketika Obama dan Netanyahu bertemu di Gedung Putih pada Senin, kata perdana menteri Israel tersebut.
Tekanan Obama pada Israel untuk tidak menyerang Iran mempertegang hubungan antara sekutu tersebut.
Kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat itu akan menjadi yang pertama sejak ia bertemu dengan Obama pada September 2011.
Menteri Luar Negeri Inggris William Hague pada tengah Februari menyatakan, Israel tidak bijaksana bila menyerang Iran atas sengketa kegiatan nuklirnya, dengan mengatakan jalur diplomatik harus diberi kesempatan untuk berhasil.
Saat berbicara setelah serangan terhadap diplomat Israel di beberapa negara, yang dinyatakan dilakukan petugas Teheran, Hague mengatakan Republik Islam itu meningkatkan kesediaannya merenungkan kegiatan "tak sahnya" di bagian lain dunia.
Panglima tentara Amerika Serikat dalam wawancara menyatakan percaya bahwa terlalu dini mengambil tindakan tentara terhadap Iran untuk menanggapi kegiatan nuklirnya.
Jenderal Martin Dempsey, Kepala Staf Gabungan, kepada acara "Fareed Zakaria GPS" jaringan berita CNN juga menyatakan hukuman ekonomi harus diberi kesempatan dan Amerika Serikat serta sekutunya harus lebih siap untuk pilihan tentara,
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.