Sepulang dari perundingan di Damaskus, Rabu (8/2/2012) dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menolak menjawab pertanyaan apakah Rusia mendesak Bashar mundur. "Setiap hasil dialog nasional harus dihasilkan persetujuan antara rakyat Suriah sendiri dan harus disetujui seluruh rakyat Suriah," katanya, seperti dilansir kompas (8/2/2012 19:35 WIB)
"Berusaha mempercepat memutuskan hasil dari dialog nasional itu pada hakikatnya bukan tugas masyarakat internasional," kata Lavrov sembari menambahkan pemerintah dan semua kelompok oposisi harus duduk bersama untuk berunding.
"Semua pihak yang memiliki pengaruh atas kelompok-kelompok oposisi Suriah harus mendesak mereka memulai perundingan dengan pemerintah Bashar," tambahnya lagi.
Lavrov yang mendapat sambutan hangat seperti seorang pahlawan oleh para pendukung Bashar ketika tiba di Damaskus, juga mengatakan pemanggilan pulang para utusan dari Damaskus tidak akan membantu rencana Liga Arab.
"Saya kira pemanggilan pulang para duta besar itu tidak akan membantu mewujudkan kondisi-kondisi yang akan mendukung realisasi rencana Liga Arab," katanya.
Usir
Sehari setelah Amerika Serikat menutup kedutaannya di Damaskus, Perancis, Italia, Belanda, dan Spanyol juga bersama Inggris serta Belgia, Selasa kemarin, memanggil pulang dubes-dubes mereka untuk Suriah untuk konsultasi-konsultasi.
Enam negara Arab Teluk Persia mengatakan mereka memutuskan akan mengusir utusan-utusan Suriah dan menarik dubes-dubes mereka dari Damaskus sebagai protes atas "pembunuhan massal" warga sipil. "Bagi kami setidaknya logika ini tidak jelas," kata Lavrov
"Sama tidak jelasnya dengan keputusan tergesa-gesa membekukan tugas misi Liga Arab di Suriah," tuturnya.
"Kehadiran para pemantau asing selalu memainkan satu peran yang mengekang dan tidak jelas mengapa sejumlah negara Teluk memanggil pulang para utusan mereka dari misi ini dan kenapa misi itu setelah penangguhan itu dalam waktu sangat segera laporannya diduga telah diterima Dewan Keamanan PBB," ujar Lavrov.
Setelah perundingan Selasa itu Lavrov mengatakan Rusia siap membantu menghentikan krisis itu sesuai dengan satu rencana perdamaian yang diajukan Liga Arab dan Bashar siap melakukan dialog dengan semua kelompok politik.
Lavrov, namun begitu, tidak secara tegas menyatakan apakah ia mengacu pada rencana terbaru Liga Arab yang menyerukan Bashar mundur atau satu rencana November lalu yang menerukan pengiriman satu misi pemantau dan menghentikan aksi kekerasan. Ia juga tidak memberikan isyarat tentang pandangan Rusia menyangkut masa depan politik Bashar.
Moskwa memicu kemarahan Barat pekan lalu karena bersama Beijing menggunakan hak veto mereka di Dewan Keamanan PBB untuk menghambat tindakan PBB terhadap Damaskus, yang Menlu AS Hillary Clinton sebut sebagai satu ejekan.
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.