Ajax, kesebelasan asal Amsterdam, ingin tanggalkan 'Yahudi' sebagai sebutan mereka karena menuai protes banyak kalangan di Belanda. Kendati masih belum jelas mendapatkan reaksi dari suporter Ajax, seperti dilansir VIVAnews (27/10/2011 06:41 WIB)
Juru bicara Yayasan Pemberantasan Antisemitisme, Stichting Bestrijding Antisemitisme (BAN) Hans Knoop menuturkan "Percayalah, orang Yahudi dan orang bermartabat lainnya tidak akan suka mendengar yel semacam 'Yahudi, Yahudi, Super Yahudi' terus menerus sepanjang pertandingan," katanya seperti dilaporkan Radio Nederland Wereldomroep pada Selasa 25 Oktober 2011.
"Walau maksudnya positif, untuk menyemangati Ajax dan bukan untuk menyakiti orang Yahudi, namun toh hal itu terjadi juga. Apalagi yel tersebut malah memicu semangat antisemitisme kubu lawan," tambahnya.
Antisemitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum tertentu. Jika dilihat dari sejarahnya, Ajax memang dianggap sebagai kesebelasan Yahudi karena berbasis di Amsterdam. Sebelum Perang Dunia II, banyak kaum Yahudi yang berdiam di ibukota Belanda sehingga Ajax pun dianggap kesebelasan Yahudi.
Suporter kesebelasan lawan seperti Feyenoord dan ADO Den Haag lantas mulai menyanyikan yel-yel antisemitisme tiap pertandingan bola untuk mengejek Ajax. Suporter Ajax pun membalas dengan menyanyikan yel 'Super Yahudi' sambil melambaikan bendera Israel.
BAN sempat memenangkan tuntutan terhadap ADO Den Haag karena tidak menindak para suporter yang meneriakkan yel antisemitisme, seperti 'Kami memburu Yahudi'. Ajax dan walikota Amsterdam pun tak luput dari tuntutan karena dinilai kurang tegas melarang para suporter meneriakkan semboyan Yahudi setiap pertandingan.
Namun, BAN mencabut tuntutan terhadap Ajax pada Senin lalu setelah kedua belah pihak mengadakan perundingan. Kesebelasan ini berjanji akan berdialog dengan suporter tentang rencana mengganti julukan mereka dengan nama ksatria.
Ajax sudah membicarakan masalah pergantian julukan ini dengan para suporter, namun agaknya usaha itu tak membuahkan hasil. Para suporter loyal justru membawa lebih banyak atribut Yahudi sambil menyanyikan lagu 'Hava Nagila' saat pertandingan Ajax melawan FC Twente. [tt-01]
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.
Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.
TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.