Login

Meneropong Perubahan Timteng dari Revolusi Mesir

 
Piramid

Mesir adalah imperium politik Timur Tengah. Dinamika politik yang terjadi di negara tersebut akan berdampak besar pada horizon perpolitikan kawasan tersebut. Kini, Mesir mengalami revolusi. Seberapa jauh skala pengaruh dari revolusi tersebut terhadap mozaik politik di wilayah Timur Tengah? Tergantung pada radius perubahan yang dihembuskan revolusi itu sendiri. Kemana perubahan perpolitikan dalam negeri Mesir, ke situ pula arah perubahan Timur Tengah. Bahrain, Libya, Yaman, Jordania, Aljazair, kini seakan sedang menunggu giliran untuk direvolusi. Tulisan ini mencoba menjadikan revolusi Mesir sebagai teropong untuk menyorot probabilitas perubahan yang akan terjadi di kawasan sekitarnya, yang kini sedang mengalami krisis politik.

Pascarevolusi Mesir akan memasuki proses politik yang panjang dan menentukan. Setelah sekian lama terpasung oleh pola kepemimpinan militeristik, tak mudah untuk merajut relasi sipil-negara secara ideal. Sebagai pemangku kuasa, kekuatan sipil Mesir butuh proses adaptasi. Baik pada tingkat konsepsi maupun aksi. Nasionalisme, Islam, demokrasi, Arabisme, akan menjadi anasir-anasir yang kembali muncul ke permukaan kesadaran politik rakyat Mesir. Pencarian titik eguilibrium antara anasir tersebut akan berproses lagi, setelah sekian lama arahnya dikendalikan militer. Tentu akan terjadi keterkejutan psyko sosial-politik-kultural. Tapi betapapun revolusi ini terjadi secara tiba-tiba di permukaan, pada tingkat bawah sadar politik rakyat Mesir ini merupakan puncak dari proses yang panjang. Secara natural, perubahan di Mesir adalah siklus keniscayaan sejarah.

Secara umum, perubahan Mesir ke depan akan mencakup beberapa hal: Pertama, pemaknaan ulang terhadap konsep nasionalisme. Nasionalisme Mesir berada dalam tegangan varian Arabisme dan Islamisme. Jika selama beberapa dekade dialektika pencarian makna nasionalisme Mesir "dibonsai" oleh militer dengan perspektif keamanan. Maka kini akan bergeser pada mindset sipil dengan spirit kebebasan. Ada traumatik tersendiri terhadap eksklusivitas. Ini akan menjadi pertimbangan tersendiri, baik bagi kalangan Islamis maupun Arabis, untuk mereformulasi konsepsinya dengan mengakomodir semangat keterbukaan. Sulit bagi Ikhwanul Muslimin untuk berkiprah di politik dengan mengusung ekslusivisme Islam. Sebagaimana juga spirit kearaban harus merelevansikan ulang nilainya ditengah diversitas lokal, regional dan global.

Kedua, rekonstruksi wacana dan praktik demokrasi. Jika peralihan militer ke sipil berjalan dengan baik, perpolitikan Mesir akan dimeriahkan berbagai macam kelompok dengan latar ideologi dan kepentingan berbeda. Akan terjadi kontestasi wacana yang dahulu terpangkas oleh pola kekuasaan militer. Sebagaimana Turki dan Iran dengan kekhasan model sistem politiknya masing-masing, rakyat Mesir akan berproses menemukan formulasi politiknya sendiri. Terbuka kemungkinan Mesir akan menampilkan konsep demokrasi “jalan ketiga”, yang selama ini tak kita temukan di berbagai negara berpenduduk Islam. Jika sekularisme Turki ditopang kedekatan geopolitis dan kulturalnya dengan Eropa, Mesir bisa lebih merepresentasikan sisi Afrika dan Asia. Sementara corak keislamannya berbasis kebudayaan Arab dan nalar Sunni, berbeda dengan Iran yang bercorak Persia dan Syiah. Jika ini terjadi, Timur Tengah ke depan akan kaya dengan keragaman.

Ketiga, reformulasi hubungan strategis politik luar negeri. Pascarevolusi, Mesir akan memiliki logika politik luar negeri yang berbeda. Sejauh mana perbedaannya, akan sangat ditentukan oleh hasil dua varian diatas, nasionalisme dan demokrasi. Akan terbangun sebuah pola baru hubungan antara negara dalam kawasan tersebut. Suriah, Turki, Iran, Lebanon diantara beberapa negara yang akan memanfaatkan peluang ini untuk menjalin keakraban politik dengan Mesir “baru”. Pada saat yang sama, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yaman, Tunisia akan merespon perubahan ini dengan melakukan reposisi hubungan dengan pemerintahan Mesir yang baru. Apapun hasil akhirnya, momentum revolusi Mesir akan merubah mozaik hubungan strategis di kawasan Timur Tengah.

Pada tingkat regional, Mesir adalah palang pintu perdamaian di kawasan Timur Tengah. Lengsernya Hosni Mubarak akan merubah arah mata angin politik luar negeri Mesir yang selama ini berpihak sepenuhnya pada Israel, dengan sokongan penuh Amerika Serikat (AS). Menariknya, perubahan ini justru berpeluang membuka pintu perdamaian Israel-palestina yang selama ini menemui jalan buntu. Pemerintahan baru Mesir nanti bisa merupakan tatanan kekuasaan yang berani untuk menekan pemerintah Israel untuk lebih realistis dalam memberikan tawaran opsi damai. Mesir kemungkinan akan menjadi kritis terhadap Israel. Pada sisi yang lain, kepada Mesir yang "baru", pihak Palestina akan lebih teryakinkan untuk meneruskan jalan damai. Artinya, perubahan di internal Mesir memiliki peluang besar untuk menghasilkan sebuah keseimbangan baru dalam proses negoisasi perdamaian Israel-Palestina. Sebagian kalangan mengkhwatirkan pemerintah baru Mesir yang terbentuk nanti akan mendelegitimasi perjanjian Camp David. Tapi kemungkinan ini sangat kecil.

Keempat, rekonstruksi peta kerjasama ekonomi. Mesir merupakan urat nadi perekonomian Timur Tengah. Terusan Suez adalah makhota ekonomi negeri Piramida tersebut. Tapi pada saat yang sama, ketergantungan ekonomi Mesir terhadap negara lain cukup tinggi. Ke depan, Mesir akan memasuki horizon ekonomi yang lebih realistis, dengan berbasis pada sumber daya riilnya, bukan bantuan deras dari mitra luar negerinya. Dalam konteks ini, perrekonomian Mesir dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki pancaroba. Tapi Mesir juga masih bisa memanfaatkan kestrategisan geopolitisnya sebagai aset ekonomi dalam membangun hubungan dengan beberapa negara baru. Pada tingkat dalam negeri, akan nada tuntutan keras terhadap perubahan formulasi klas sosial-ekonomi yang selama ini mengistimewakan kelompok tertentu untuk mengakses sumber daya ekonomi.

Sekali lagi, semua ini sangat tergantung pada kelancaran proses transisi politik dari militer ke sipil. Pasca turunnya Mubarak, inilah revolusi yang sebenarnya bagi rakyat Mesir. Rakyat Mesir akan dihadapkan pada perubahan yang bukan hanya menyangkut dalam negerinya, tapi juga negara sekitarnya dan dunia. Dengan posisi geopolitisnya yang strategis, Mesir mengemban amanat besar. Ini bisa menjadi berkah, atau juga petaka.

Apa yang terjadi di Mesir memang tidal bisa dianalogikan pada kawasan Timur Tengah secara umum. Tiap negara memiliki tekstur politik dan gestur kekuasaan yang berbeda. Namun dalam kerangka spirit perubahan, kesemuanya berada pada satu benang merah. Tidak semuanya memang akan mengalami revolusi, sebagaimana Tunisia dan Mesir. Tapi perubahan? Ini sepertinya tak bisa dielakkan.

Muhammad Ja'far, Pengamat Politik Timur Tengah. Peneliti Indopol dan Lembaga Studi Agama-Filsafat (LSAF) dan dimuat di Koran Tempo, 19/2/2011.

Section : Opini
Category : Ragam Opini
Author : Administrator
Publish : 2012-01-13
View : 472 kali
Berita terkait

Kirim Komentar Anda

Nama

Komentar
Kirim Komentar

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan TIMUR-TENGAH.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. TIMUR-TENGAH.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

TIMUR-TENGAH.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

Fan Page
Twitter
Video